Friday, August 21, 2009

Jika perduli, kenapa harus diakui negara lain dahulu baru perduli?

Segala sesuatu kala itu ada dan tersedia dengan manisnya, kita akan merasa selalu dalam posisi aman dalam posisi tidak perlu menjaga. Aman dan Nyaman, dan terkendali. Tetapi ketika hal tersebut hilang atau diakui oleh pihak lain, mulailah satu ego muncul tidak rela untuk hilang.

Saat ini sedang menjadi trending topics di Twitter suatu situs jejaring sosial yang berbasis seperti microblogging mengenai tari pendet yang diakui oleh Malaysia. Kehebohan terjadi karena ketidakrelaan suatu hal yang merasa kita miliki turun temurun diakui oleh Negara lain. Banyak pihak berteriak tidak rela, umpatan kata diungkapkan, yang pada dasarnya karena terdapat kata tidak rela

Saya juga tidak rela, tetapi kenapa saya dahulu tidak perduli. Saya tidak pernah menonton tari pendet seperti apa, saya tidak pernah menari tari pendet seumur hidup saya, saya juga lebih suka menonton konser musik yang popular dibanding musik budaya sendiri. Yang lebih kronis saya hanya pernah menonton tari wayang orang, itu juga hanya karena saya hendak menonton Puppet Show dari Belgia dan Pergelaran Wayang Orang tersebut sebagai pembuka acaranya.

Jika perduli, kenapa harus diakui negara lain dahulu baru perduli? Tanyakan kenapa? Tanyakan kepada mereka yang berteriak2 tidak rela? Tapi jangan lupa tanyakan saya juga….

2 comments:

Baby-U said...

aku nggak, aku nggak ...
aku selalu peduli dengan bangsaku
karena aku sangat mencintai INDONESIA !!!! ^^

dari kecil aku suka menari, tarian daerah, tentunya.
aku suka menari bali, belajar tari jawa, sunda, juga tari2an sumatera & betawi.

dari kecil juga, aku suka "ngejogrog" di depan tv & menghafal lagu2 daerah dari "aneka ria anak2", supaya di sekolah, aku bisa selalu jadi yang pertama nyanyi lagu2 daerah, dan ngajar teman2 untuk nyanyi.

setiap malam minggu, bapak aku selalu ajak aku ke wayang orang bharata dan selalu cubit aku kalau aku sampe ketiduran di tengah2 pertunjukan biarpun udah tengah malem, dan aku dengan rela baca buku2 wayang & bisa jawab pertanyaan2 bapak aku seputar buku wayang yang udah aku baca berkali2 sampe kertasnya kusut & robek di sana sini.

jadi, ketika orang2 berteriak, aku juga berteriak.
bukan karena ikut2, tapi karena aku merasa apa yang sudah aku cintai dan menjadi bagian dari diriku diambil secara paksa dari tulang rusukku sendiri ... *sigh*

jadi curhat colongan =P

tapi, hidup INDONESIA, dan semoga kita bisa lebih menghargai budaya kita sendiri =)

lia soedharyo said...

Panjang cekaliii...komenna..i know u dont, but not all the youngster like u, perhaps incl. Me....

Juz Me

My photo
" i'm a fetish mostly on shoes, nice quote and last but not least on L.O.V.E "